DETEKTIF SEKOLAH: MENGACAK JEJAK PERISAK

Detektif Sekolah: Di balik cerita.

Hai semua!

Sepertinya udah lama nih saya enggak posting hehe. 

Jadi, belakangan ini saya lagi giat-giatnya menyelesaikan naskah untuk lomba The Writer Show 2021-nya Gramedia Writing Project. Tenggatnya semakin dekat, 3 September 2021. Akhirnya, alhamdulillah cerita Detektif Sekolah yang saya tulis selesai juga. Menjadi pemenang tentu bakal luar biasa, tapi di luar itu ada hal yang jauh lebih penting, yaitu naskah yang tamat. Menamatkan cerita itu tantangan tersendiri loh bagi penulis, dan ikut lomba bisa jadi pemicu yang efektif.  

Baca: Ikutan Lomba The Writer Show di GWP

Nah, kali ini saya mau share lebih jauh tentang cerita saya, Detektif Sekolah: Mengacak Jejak Perisak.



Detektif Sekolah: Mengacak Jejak Perisak

Kali ini, Klub Detektif Sekolah dihadapkan pada kasus persekusi seorang murid bernama Agus. Mereka diperintahkan Pak Margo sang guru Fisika, untuk menangkap pelakunya. 

Mengambil tema persekusi bukan tanpa sebab. Persekusi, perisakan, perundungan, dan segala variannya masih akrab di lingkungan anak-anak sekolah. Sehingga, rasanya relevan untuk mengangkat tema ini sebagai kasus inti di cerita Detektif Sekolah.

Kisah dibuka dengan menggambarkan bagaimana Bams, Momon, dan Tessa mengisi hari-hari tanpa kasus. Sudah lama mereka enggak menyelidiki sesuatu. Bams mencoba peruntungannya di klub band, Momon secara sadar ikut klub ikebana, dan Tessa tetap berkutat pada dunia akademis. Namun, satu hal yang enggak bisa mereka lepaskan, mereka rindu beraksi kembali. Berikut cuplikan adegannya:

***

“Kalo kamu sibuk apa sekarang, Bams?” Tessa mengalihkan topik pembicaraan.


“Gue aktif di band sekarang.”


“Wow, pegang apa?”


“Tapi gue udah cabut,” kilah Bams cepat tanpa menjawab pertanyaan Tessa. Dua temannya ini tak boleh tau peran dan fungsinya di band. Itu adalah aib yang akan Bams simpan sampai mati. “Gue ngerasa visi bermusik gue berbeda dengan mereka.”


“Iya, Momon juga cabut dari klub ikebana. Enggak ada yang paham sama aliran seni Momon.”


“Terserah lo, Mon.”


“Sejujurnya, saya seneng banget kita ngumpul di sini lagi. Memang sih, selama ini saya sibuk ama kegiatan lab. Tapi tetap saja, ada yang hilang dari hari-hari saya.”


Ajaib, mereka bertiga merasakan hal yang sama.


“Kalian ingat? Di sini Klub Detektif kita terbentuk.” Tessa mulai mengajak dua lumba-lumba itu bernostalgia. Memori mereka melayang menuju masa di saat Tessa mencetuskan ide pembentukan Klub Detektif Sekolah sebagai wujud kecintaannya terhadap cerita-cerita detektif. “Saya inget banget gimana galaunya Momon waktu itu gara-gara enggak dianggep di tim basket. Saya inget juga gimana keselnya Bams karena dikecewakan OSIS. Dan, kegalauan itu yang menciptakan tim kita, di sini, di taman ini.”


“Ah, gue juga inget gara-gara Momon, bangku taman ini patah!”


Momon cemberut.


“Semenjak kasus terakhir, kita enggak pernah dapet job lagi.” Tessa menghela napas.


“Iya nih, Momon kangen pengin beraksi lagi.”


Tepat setelah Momon menyelesaikan kalimat, gawai Tessa berbunyi. Ada pesan masuk dari Pak Margo, guru fisikanya.


“Teman-teman, Pak Margo memanggil.”


“Pasti lo mau ikut olimpiade Fisika lagi ya?”


Tessa menggeleng. “Bukan hanya saya. Pak Margo manggil kita semua.”


Alis Momon dan Bams terangkat. Berlawanan dengan Tessa yang biasa dipanggil guru karena kepintarannya, dua makhluk itu biasa dipanggil guru akibat nilai dan kelakuannya. Bams berpikir, harusnya tak ada masalah lagi dengan ulangan fisikanya karena ia telah melakukan remedial. Di sebelahnya, Momon membaca kemungkinan sang guru ikebana melaporkan aksinya pada Pak Margo. Tapi untuk apa? Bukankah ikebana dan fisika tidak ada hubungannya? Dengan sejuta pertanyaan melingkar di kepala, mereka mengikuti langkah Tessa.


***

Gimana? hehe.. 


Petualangan mereka tentunya enggak mulus-mulus aja. Detektif Sekolah bakal menghadapi berbagai halangan, cobaan, kecerobohan, dan tentu saja kekonyolan, hehehe.


So, kalau tertarik baca, segera meluncur ke https://s.id/detektifsekolah yaaa....😁😁



Detektif Sekolah: Sebuah Reuni yang Menyenangkan.


Menulis cerita Detektif Sekolah ibarat reuni yang menyenangkan untuk saya. Saya udah kangen berat dengan Bams si tukang protes, Tessa si ensiklopedia berjalan, dan Momon si random. Ya, sebegitu cintanya saya sama karakter-karakter itu hingga rasanya mereka bener-bener hidup di dunia nyata. Kaya temen sendiri. Hahaha...

Detektif sekolah pertama kali saya tulis di tahun 2012 yang alhamdulillah bisa diterbitkan oleh Penerbit Bukune. Saya emang suka sekali cerita-cerita detektif. Novel-novel S.Mara Gd, Trio Detektif-nya Robert Arthur JR, Sherlock Holmes, Hawkeye Collins & Amy Adams, semua saya suka. Komik Detektif Conan dan Detektif Kindaichi udah jadi makanan hari-hari juga saat itu. 

Nah, dari situ saya bermimpi, rasanya pengin sekali nulis cerita detektif. Terus, karena aliran saya adalah menulis cerita-cerita yang dikemas ringan berbumbu komedi, terciptalah trio Detektif Sekolah yang unyu-unyu itu. Kasusnya bisa dibilang receh semua, pembaca pasti bisa nebak lah siapa pelakunya. Tapi, bukan berarti saya nulisnya ngasal lho ya, hehehe. Saya tetap berpatokan pada logika dan berusaha menyebar clue yang mengarah pada pelaku di beberapa titik cerita.  Semangat saya: Detektif Sekolah bisa memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan bagi pembacanya.


(Detektif Sekolah, 2012)

Dan, semangat itu masih berlaku sampai sekarang, setelah 9 tahun berselang.

Selamat berpetualang bersama Tessa, Bams, dan Momon. Semoga menjadi bacaan yang menyenangkan.


 

Post a Comment

0 Comments