Berburu Restu: Nikah Harus Resepsi?

Kalau nikah, kamu tim "KUA doang" atau tim "harus resepsi"?

Saya sempat melontarkan pertanyaan itu via IG story. Hasilnya? 63% adalah tim "KUA doang". Mungkin tidak sepenuhnya mewakili seluruh populasi warga dunia, tapi seenggaknya eksistensi tim "KUA doang" terbukti. Kalau dipikir-pikir, rasanya kita boleh setuju bahwa mewujudkan pernikahan tanpa resepsi susahnya kayak adu panco dengan gajah. 

Nah, dari situ tebersit ide untuk masukin premis cerita "Berburu Restu" ke kompetisi Mizan Writing Bootcamp 2022. Sebuah cerita yang mengangkat isu sulitnya nikah tanpa resepsi. Oya, tentang Mizan Writing Bootcamp bisa baca postingan saya yang ini. Balik ke "Berburu Restu", mau tahu ceritanya kaya apa? Ini nih (tolong animasinya, Mas 😂)

Dipa cuma ingin menikahi Ajeng di KUA. Tanpa resepsi. Tanpa ingar bingar pesta. Menurutnya, resepsi pernikahan hanyalah bentuk kesombongan, pamer, dan buang-buang uang. Belum lagi ribetnya, ampun dah! Ajeng sih tidak masalah menikah di KUA saja. Kalau keluarga besar Ajeng? Tunggu dulu. Mau ditaruh di mana muka mereka.


Dipa sadar, untuk mewujudkan keinginannya, ia harus berburu restu di tengah keunikan keluarga besar pacarnya. Mampukah ia meluluhkan hati mereka?


Gimana? Menarik, kan? Menarik dooong (maksa).

Cover Berburu Restu

Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, unsur komedi dalam cerita ini bakal cukup kental. Semoga aja bisa bikin pembaca senyum-senyum karena senyum tuh ibadah, ye kan? Alhamdulillah, premis cerita ini lolos untuk dijadikan senjata dalam mengarungi bahtera MWB2022 bersama 49 penulis lainnya. Saat ini, teaser cerita sudah bisa diakses di aplikasi Rakata. Caranya cukup mudah:
1. Download aplikasi Rakata di gawai kamu
2. Bikin akun di aplikasi Rakata
3. Ketik "Berburu Restu" pada kolom pencarian
4. Klik ceritanya
5. Silakan membaca dengan bahagia 😁

Tampilan pada Aplikasi Rakata

Saat ini kompetisi sudah memasuki babak seleksi menuju 20 besar. Selain penilaian dari juri, jumlah vote pembaca juga menjadi bagian dari penilaian. Untuk itu, jangan sungkan-sungkan untuk ngasih love pada cerita "Berburu Restu". Setiap love yang dikasih pembaca, begitu berarti buat saya sebab hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Oh, begitulah kata pujangga (yang ngeh lagu ini berarti kita seumuran wkwkw).

Jadi, terima kasih buat temen-temen yang memutuskan untuk membaca cuplikan karya saya. Mohon doanya agar saya bisa menuliskan cerita ini dengan baik. Andaikata nggak lolos tahap selanjutnya, insyaallah saya tetap bakal menulisnya. 

Sebab, tulisan ini penting.






Post a Comment

0 Comments