THESSALIVIA, MENGAWALI KARIER KEPENULISAN SECARA INDIE (Part 1)

Hai semua! Selamat hari Rabu! 😂. 

Kali ini saya berhasil mengajak Thessalivia di tengah kesibukannya untuk diskusi nulis, berbagi pengalaman tentang dunia indie. Mengapa Thessa? Karena selain teman sendiri 😄, menurut saya ibu yang satu ini menginspirasi bahwa menerbitkan karya secara indie adalah solusi potensial bagi penulis, terutama penulis pemula. Buktinya, novel perdana Thessa yang berjudul "Nikah Muda" terbit secara indie dan mendapat reviu bagus dari pembaca! 



Oya, sebelumnya Thessa juga pernah berbagi tips mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menerbitkan karya secara indie. Namun, kali ini kita akan ngulik pengalamannya lebih jauh lagi, lebih personal, dan semoga berdaging.

Silakan klik postingan Thessa: Tips menerbitkan buku di penerbit indie

Kunjungi juga: 5 Hal dalam menerbitkan buku di penerbit mayor

So, siapkan lima menit kamu untuk membacanya ya! Yuk, kita mulai.


Hai Thessa, apa kabarnya nih? Lagi sibuk nulis apa sekarang?

Halo, Abi. Terima kasih sudah menawarkan sesi ngobrol bareng ini. ðŸ˜ Awalnya aku sempat ragu buat mengiyakan sesi ini, karena merasa remah rangginang yang tidak ada apa-apanya. Tapi Abi meyakinkan, kalau tidak harus sehebat JK Rowling untuk bisa berbagi. Hehehe.. ðŸ˜† (ini kataku sendiri, Abi sih bilangnya ga gitu sebernanya).

Nulis blog 🤣🤣 Soalnya aku lagi seneng banget upadate blog belakangan ini. Selain itu juga sibuk mencari ilham buat merevisi naskah yang udah dicoret-coret editor. Ada dua naskah yang sudah masuk meja editor, doakan semoga naskahnya bisa segera terbit, ya...



Nyari Ilham? tuh, dia lagi makan seblak. Maap jayus😂. Ntar kalau keduanya udah terbit, kita ngobrol-ngobrol lagi ya, hehehe. Sekarang aku mau ngulik tentang novel "Nikah Muda" kamu nih. Kenapa sih pada saat itu kamu memilih menerbitkan secara indie?

Nikah Muda adalah novel pertama yang berhasil aku tulis seumur hidup. Jadi, saat awal aku tulis tidak ada rencana atau target untuk diterbitkan. Waktu itu sebatas ingin merampungkan sebuah cerita yang ada tipe karakter yang selalu aku suka di setiap buku atau film (karakter Aji). Ketika naskahnya jadi, waktu itu Abi menyarankan buat lanjut self edit, tapi apa daya kemampuan self edit aku waktu itu terbatas banget. Hehehe.. 

Berbulan-bulan naskah aku diemin sampai akhirnya aku minta jasa seorang teman yang mantan editor penerbit Gramedia grup untuk membantu editing. Dari situ naskah aku diobrak-abrik. Jalan cerita harus ada yang ditambah, diubah, bahkan dirombak. Ketika selesai editing, aku ngerasa naskah menjadi jauh lebih baik. Namun entah mengapa, aku tetap tidak punya keberanian untuk kirim ke penerbit ðŸ˜†

Sampai waktu itu, ada lomba Gramedia Writing Project (GWP), hadiahnya buat naskah yang menang akan diterbitkan di Gramedia. Siapa yang ga tergiur, kan? Hehehe..  Aku kirim naskah lewat web GWP. Dan akhirnya nama aku masuk jadi salah satu finalis. Dari 60an finalis, tentu saja aku ga masuk jadi pemenang (tau diri sejak awal, yang masih minim pengalaman). Saat aku tanya ke editor GWP tentang kekurangan buku ini, dia bilang karena isu nikah di bawah umur itu tidak masuk ke target pasar yang ingin mereka tayangkan. Oke, dari situ aku bingung mencari rumah untuk naskah Nikah Muda. Sampai akhirnya seorang teman menyarankan tentang penerbit indie. Kebetulan aku juga tidak sabar melemparkan naskah ini ke pasaran dalam bentuk buku. 


Kalau diinget-inget, perjalanan naskah "Nikah Muda" seru juga ya. Aku termasuk yang beruntung bisa jadi pembaca draf awal kamu😆. Lanjut Thess,  kamu pasti survei penerbit-penerbit indie yang cocok dong. Nah, akhirnya apa pertimbangan kamu dalam memilih penerbit indie tujuan?

Penerbit indie ada banyak banget. Aku milih Stiletto waktu itu karena penerbit ini juga punya lini untuk penerbitan mayor. Jadi asumsiku waktu itu, mereka adalah penerbit indie dengan kualitas penerbit mayor. I'm glad I wasn't wrong ðŸ˜Š Paket yang ditawarkan pun beragam, bisa disesuaikan dengan kebutuhan kita. Bahkan laporan dan pembayaran royalti juga tak pernah terkendala. Setelah 3 tahun sejak novel Nikah Muda pertama terbit sampai saat ini, laporan dan transferan royalti di setiap bulan tidak pernah terlambat.


Pada prosesnya, certain dong suka dukanya menerbitkan naskah secara indie?

Pastinya lebih banyak sukanya, dibanding duka ðŸ˜
Proses Penerbitan
Di proses terbit, sukanya adalah dari segi waktu dan kebebasan. Bayangkan kalau di penerbit mayor, buat nunggu jawaban aja bisa berbulan-bulan. Belum lagi editing, naik cetak, distribusi, dll. Sedangkan di penerbit indie, waktunya bisa lebih cepat.
Kedua dari segi kebebasan. Aku waktu itu sangat excited dalam mendesain cover, ilustrasi di dalam buku, jenis tulisan, dll. Dan semua bebas aku putuskan sendiri, tanpa perlu minta approve sana sini seperti di penerbit mayor ðŸ˜

Setelah Terbit
Setelah proses terbit, suka berikutnya adalah mendengarkan tanggapan orang-orang. Seorang teman membaca Nikah Muda hanya dalam sekali duduk saat jam istirahat kantor (saking dia penasarannya), sampai menangis dan terharu dengan ceritanya. Orang tidak dikenal tiba-tiba mengirimkan DM, bilang mengangkat novel Nikah Muda jadi skripsi saking sukanya. Seorang bookstagram yang bilang dia menobatkan aku jadi autobuy author saking sukanya baca Nikah Muda. Seorang yang baru aku kenal juga bilang dia berhasil mengatasi reading slump saat baca Nikah Muda dan memberikan 5 bintang di Goodreads. Itu hanya sebagian, masi banyak testimoni lainnya yang membuat aku yakin, menerbitkan buku ini secara indie adalah langkah yang tepat. Andai dulu aku tidak memutuskan seperti itu, belum tentu novel Nikah Muda bisa dinikmati oleh orang-orang seperti saat ini ðŸ˜ðŸ˜

Dukanya, bahkan sebuah buku indie pun tidak luput dari pembajakan. Huhuhu.. Banyak web yang memberikan ebook Nikah Muda secara gratis. Ada juga yang menjual ebook Nikah Muda sangat murah di instagram dan beberapa marketplace. Please, kalau teman-teman menemukan ini, bantu report yaa.. Padahal kalau mau membaca buku Nikah Muda secara gratis dan legal bisa loh, kamu tinggal baca di elibrary Candil (epustaka milik Pemprov Jabar) dan Perpustakaan Digital Banyuasin.


Wow, prosesnya menyenangkan ya! Perihal pembajakan, aku setuju kita harus perangi bareng-bareng sampai kapan pun 😡 . Terus Thess, terkait aspek pemasaran, kalau di Penerbit Mayor kan bisa dikatakan proses pemasaran dan distribusi ke toko-toko buku dilakukan oleh penerbit. Nah, gimana dengan penerbit Indie? Share dong pengalaman kamu masarin novel “Nikah Muda”.

Jujur saja, cetakan pertama Nikah Muda waktu itu semuanya adalah pesanan teman-teman. Ratusan cetakan pertama adalah dari teman yang waktu itu langsung memesan saat aku posting di instagram. Mulai dari teman kantor, bahkan teman-teman sekolah dan kuliah. Mungkin jumlah ini tidak seberapa dibandingkan penerbit mayor, tapi buat aku nilai ini jauh dari cukup. Bahkan semua biaya editor, fee terbit, sampe desain, semuanya tertutup dari cetakan PO pertama. 

Setelah itu penjualan lebih banyak dari mulut ke mulut, temannya teman, kenalannya kenalan, dll. Aku juga banyak dibantu oleh teman-teman bookstagram dan book blogger yang ikut mereview Nikah Muda agar lebih dikenal oleh orang lain. Yang penasaran dengan reviewnya, silahkan ketik aja tagar #novelNikahMuda di instagram, ya... Sampai saat ini, kadang masih ada yang suka menghubungi di email atau instagram untuk membeli buku Nikah Muda, alhamdulillah. 


Kalau ada yang berminat memiliki novel "Nikah Muda", gimana cara dapetinnya, Thess?

Kalau kamu berminat, juga bisa pesan melalui CS Stiletto di WA: 0881-2731-411
(Buku terbitan Stiletto Indie Book merupakan buku Pre Order yang hanya dijual online dan buku pesanan akan dicetak setelah pembeli melakukan konfirmasi pembayaran dengan waktu cetak kurang lebih 10 hari kerja)
Pembelian juga bisa melalui dm instagram aku di @thessalivia, siapa tau ada ready stock jd ga perlu nunggu ðŸ˜
Versi digital (ebook-nya) bisa didapatkan di Google Play Book di link ini


Gimana teman-teman, mulai tertarik menerbitkan secara indie? Share di komen ya!

Minggu depan, kita bakal ngobrol lagi tentang per-indie-an bareng Thessa. Jadi, sampai jumpa di Diskusi Nulis bareng Thessa part 2, minggu depan!

Post a Comment

7 Comments

  1. Emang kalo Mba Thessa udah sharing mah ga diragukan lagi... suka banget sama tulisan2 Mba Thessa tentang kepenulisan. Dan baru tau jalan panjang Mba Thessa nerbitin buku Nikah Muda kemarin gimana. Thanks sharing obrolannya, ditunggu part 2 nya 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. wuaa terharuu bacanyaa. Terima kasih Mba Tika ^^

      Delete
    2. Terima kasih Mbak Tika. Emang mantap Bu Thessa itu, serba bisa haha

      Delete
  2. Abiiii, makasii udah menawarkan diskusi bareng yang seru sekali ini. Menulis indie memang banyak suka dukanya, tp tentu aja lebih banyak sukanya. Hehehe.. Semoga tulisan ini bisa memberikan sedikit gambaran temen2 di sini tentang menerbikan buku indie yaa. Kalau belum, tenang aja, bakal ada part 2 nya yg membahas lbh dalam tentang penerbit indie :D
    See you in next post, Bi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku yang terima kasih, Thess haha. Tapi emang dari cerita kamu, aku jadi tertarik suatu saat nerbitin karya lewat jalur indie. Seru kayanya semua kewenangan ada di kita.

      Delete
  3. Mantap banget emang Mbak Thessa ya, saya jadi mikirnya mungkin kalau Mbak Thessa waktu itu mau nyobain penerbit mayor lain kemungkinan besar naskahnya bakalan diterima 😁

    Tapi salut juga sih, Mbak Thessa punya temen2 yang loyal, yang gercep ikutan PO langsung terjual ratusan eksemplar. Dan setelah itu, kualitas yang berbicara, semakin banyak orang yang penasaran sama novel Nikah Muda dan kepengen beli 😁👏👏👏

    Buku selanjutnya pasti bakalan lebih heboh lagi nih , bikin penasaran banget 😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang mantep sih, Mas Edot. Ntar buku selanjutnya sy ajak ngobrol lagi Mbak Thessa. hahaha :)

      Delete